Kalau Sudah Tiada Baru Terasa

Avatar admin
Kalau Sudah Tiada Baru Terasa

Kalau Sudah Tiada Baru Terasa

Penulis: Prof. Dr. Anis Fauzi, M.Si | Dr. Rusdin, M.Pd | Meilinda Ade Prastiwi, M.Pd

Editor; Achmad Rozi El Eroy

ISBN : Dalam Proses

Terbit: Januari 2026

Sinopsis

Buku ini lahir dari satu gagasan sederhana namun mendasar: manusia baru memahami nilai ketika kehilangan menjadi kenyataan. Sebagaimana waktu, kesempatan, lingkungan, relasi, makna hidup, hingga jati diri—semuanya berjalan diam-diam dan sering kali berlalu tanpa disadari. Buku ini mengajak pembaca memasuki ruang refleksi, merenungkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang hal-hal yang kita miliki, hal-hal yang kita jaga, dan hal-hal yang diam-diam menjauh dari hidup kita—bukan karena dicuri, tetapi karena kita tidak hadir dalam menjaga keberadaannya. Melalui ratusan pertanyaan filosofis, psikologis, spiritual, dan humanistik, pembaca dipandu memahami bukan hanya apa yang hilang, tetapi juga mengapa kehilangan terjadi, bagaimana manusia meresponsnya, dan apa yang dapat dipelajari dari pengalaman tersebut. Di dalamnya, pembaca akan menemukan bahwa kehilangan bukan akhir dari cerita, melainkan undangan untuk menyadari kedalaman hidup.

Ide dasar penulisan buku ini terinspirai oleh sepenggal bait dalam lagu KEHILANGAN karya Musisi dangdut Rhoma Irama. Kebetulan penulis menggemari lagu-lagu beliau yang sederhana, menukik dan menantang pemikiran. Banyak bait lagu lagu Sang Raja Dangdut yang menjadi perhatian penulis. Dalam kesempatan ini penulis terlibat penghayatan bait lagu KEHILANGAN, khususnya pada bagian “Kalau sudah tiada…. Baru terasa”, yang akhirnya penulis jadikan judul buku ini.

Dengan gaya bahasa yang reflektif, puitis, dan mudah dipahami, buku ini cocok untuk siapa saja: mereka yang sedang mencari arah hidup, mereka yang pernah terluka atau kehilangan seseorang, mereka yang ingin memahami relasi manusia dan ruang batin, atau mereka yang ingin memperkuat kesadaran spiritual dan intelektual mengenai makna keberadaan. Buku ini bukan buku yang dibaca sekali lalu selesai—melainkan buku yang dapat kembali dibaca di waktu berbeda, dan setiap kali akan memunculkan makna yang baru. Ia dapat menjadi teman, pengingat, sekaligus cermin bagi pembaca untuk menyelami lapisan-lapisan terdalam dari kehidupannya. Akhirnya, buku ini mengajak pembaca berjalan pelan. Merenung. Mengingat kembali apa yang pernah dimiliki, apa yang masih ada, dan apa yang masih bisa diperbaiki sebelum terlambat. Kehilangan bukan sesuatu yang sepenuhnya bisa dihindari. Buku ini adalah perjalanan intelektual sekaligus emosional tentang apa artinya menjadi manusia—yang hidup, mencinta, bermakna, dan pada akhirnya berdamai dengan fakta bahwa segala sesuatu dalam hidup bersifat rapuh, sementara, dan tak selamanya ada. Pertanyaannya bukan apakah kehilangan akan datang, tetapi apakah kita siap memaknainya ketika ia tiba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *